Kacau tak terencana

​Hari hariku selalu dipenuhi dengan gerakan gerakan dari tubuhku.

Disaat aku bergerak disaat itu pula darahku tengah mengalir pada masing-masing salurannya.

Mengalir dengan teratur dan terarah tanpa harus aku yang meminta.


Kadang kala aku tersadar..

Gerakan dari denyutnya..

Rasa dari alirannya..

Bahkan bunyi dari degupnya..

Membuatku berfikir itu adalah harmoni terindah didalam tubuhku.

Tapi.. Apa yang terjadi?

Pandangan itu, iya, pandangan itu mengacaukan indahnya harmoniku.

Tatapan dan gerakan itu juga!

segalanya sudah menjadi kacau tak beraturan dikala pengacau itu datang merusak segala harmoni tubuhku.


Gerakan darahku tak lagi berdenyut dengan lembutnya..

Aliran darahku tak lagi terarah dengan santainya..

Bahkan juga bunyinya tak lagi berdegup dengan detak yang semestinya..


Apa yang diperbuat pengacau itu?

Hal yang tak biasa memang terdengar aneh.

Hal yang baru ditemui juga memang sulit untuk diterima.

Tapi pada akhirnya?

Lama kelamaan aku bisa menerima setiap kekacauan ini.

Meski hanya aku yang mendapat kekacauan yang tak terencana, meski dan hanya meski pula hanya pengacau itu yang membuatku kacau. Tak apa.


Setidaknya darahku masih tetap akan mengalir ditubuhku

Dan setidaknya aku masih dapat hidup untuk menikmati pandangan, tatapan dan gerakan sang pengacau harmoni itu.


Kau?

Sang Pengacau Harmoni.

Aku jatuh cinta.

Cahayaku dan Suara Itu

​Gelap?

Dingin dan sunyi.

Dimana cahaya? Dimana suara?

Ketika gelap, apa ada orang yang menyukainya?

Ketika gelap pula, apa ada orang yang dapat melihat apa yang ingin dilihatnya?

Kurasa tidak.

Gelap menurutku sama saja dengan rasa kesal.

Diam, sepi dan sendiri.

Siapa yang ingin mendekati orang yang sedang kesal?

Dan..

Siapa yang menyukai orang yang tengah seperti itu?

Kurasa tidak ada.

Bukan karena angin yang menghembus lesu ketika gelap menerpa pandangan mata.

Bukan juga karena keadaan yang memaksa hati untuk bertingkah tanpa bisa diatur.

Aku bertanya pada gelap dan kekesalanku.

Apa mereka tau apa yang ku mau disaat aku diam tanpa suara?

Apa mereka sadar apa yang tak kusuka disaat aku mengunci perlakuanku untuk tak memberi sekedar kode sederhana?

Kurasa tidak.

Aku hanya membutuhkan cahayaku, aku juga hanya membutuhkan suara itu.


Cahayaku adalah kebahagianku.

Dan suara itu adalah suaramu.

Aku hanya membutuhkan itu.


Obat Penenang

Aku berbicara sendiri di dalam hati. Menenangkan diri, menahan emosi dan mencari arti dari keadaan apapun itu yang tengah dialami.

Kadang tak jarang aku menemukan jalan buntu disana malah lebih tepatnya jarang bisa berhasil menemukan jalan, sekalipun jalan dengan petunjuk cahaya kecil yang menyerembet masuk dari celahnya. Sulit.

Perlahan tapi pasti aku mencari sesuatu untuk membantuku, mempermudah diriku, memperlancar pemikiranku untuk menghadapi setiap keadaan itu.

Dan ya sesuatu itu.. aku menemukannya.

Aku bukanlah tipikal orang yang suka diam dikala aku tengah berhadapan dengan apa apa yang membingungkanku. Kadang aku memilih untuk mengutarakannya saja atau menceritakannya.

Aku juga bukanlah tipikal orang yang suka memendam rasa. Bila dipendam itu sakit kenapa harus memendam, bila disimpan itu pilu kenapa harus menyimpan. Ya kurang lebih seperti itu.

Dan back!

Aku menemukan sesuatu itu.. sesuatu yang membuatku merasa bisa bernafas lega disaat semua keadaan baik burukku bisa aku ungkapkan dengan bercerita.

Itu temanku. Dikala aku memiliki banyak keadaan yang membingungkan lalu dia datang dengan hebatnya, membantu, menenangkan, mempermudah dan memperlancarkan pemikiranku untuk mencari arti dari keadaan itu, menaklukkan kebingungan itu. 

Saatnya aku berbicara, “disaat kau mencari sesuatu yang berharga untuk kau simpan, kau takkan menemukannya. Tapi disaat kau mencari sesuatu yang berharga untuk kau jaga dan kau sayangi, didekatmu ada, dia temanmu.”
Salam penutup dari anak kucing kecil, Jui, Selamat Malam 😊

“Air”

​Apa kau tau?

Aku sebenarnya iri pada air.

Ia selalu berusaha mengisi ruang kosong tak berpenghuni. Sedangkan aku?

Hanya duduk diam terpaku, disudut ruang hati sembari mencari kebahagian yang tak kunjung ku temui.

Dan Apa kau tau?

Aku sebenarnya benar benar iri pada air.

Ia selalu mengalir ke muara, dari tempat sempit ke tempat yang luas, dari jalan bebatuan hingga hamparan air tenang tanpa ombak.

Sedangkan aku?

Tak mengerti ke arah mana aku akan menempatkan diri, tak juga berhenti dari kegalauan yang mencoba menggoyahkan hati untuk tak berani mencari.

Bukan seperti air.

Aku hanyalah aku yang mencoba berdiri tanpa penopang dikala kaki benar rapuh untuk tegak menyanggah tubuh.

Aku hanyalah aku yang sebenarnya malu mengakui bahwa aku membutuhkan seseorang disini untuk menemani takutnya diri dari ruang yang sepi.

Dan aku hanyalah aku.
(Tulisanku untuk seseorang yang memberikan satu kata lalu aku diminta menjabarkannya :: SMP)

Saatnya pergi kah?

Apa sudah saatnya? Apa tidak lagi kaki ini berdiri untuk menunggu? -menunggu kesadaran- 

Sebenarnya bukan waktu yang mengatur tapi aku. Bukan rasa yang berperan tapi aku. Bukan apapun itu tapi aku, aku dalangnya.

Aku hanya membutuhkan, tapi apa aku dibutuhkan?

Aku hanya menginginkan, tapi apa aku diinginkan?

Aku hanya menyimpan rasa sayang yang berlebihan, tapi apa sama?

Dulu.. Dari setiap titik keluhanku, aku berharap ada yang mendengarkan. Dari setiap titik kelemahanku, aku berharap ada yang menguatkan. Dari setiap titik tangisanku, aku berharap ada yang menenangkan.

Tidaklah mudah mencari itu. 

Sayangnya, aku beruntung.

Akhir-akhir ini Aku baru saja menemukannya. Aku merasa ada yang mendengarkan, ada yang menguatkan dan ada yang menenangkan. Aku kira itu mimpiku atau imajinasi semata yang ku ukir sendiri dikepala, tapi ternyata bukan. Aku benar benar menemukannya.

Aku bersyukur.

Terlepas dari sikap kuat dan merasa tak apa bila tak diperhatikan dulunya, kini berubah menjadi takut akan dihiraukan.

Terlepas dari sikap tahan tangis dan penenang orang lain dulunya, kini berubah menjadi gadis cengeng yang tak ingin ditinggalkan.

Terlepas dari sikap tahan banting, pendengar dan penghancur kesendirian dengan keceriaan yang berlebihan dulunya, kini berubah menjadi seseorang yang selalu ingin diperhatikan, didengarkan dan ditemani.

Dari pemikiran itu.. aku sadar aku terlalu keras membalikkan sikapku bahkan jika ada, lebih dari 360° aku membalikkannya.

Buruk? Tidak. Hanya saja nantinya aku akan menjadi pecandu, takutnya.

Pertanyaanku: “Apa tak apa?”

Seperti biasa…

Dalam diam sebenarnya aku berbicara.. Dalam diam sebenarnya aku menjelaskan.. Dalam diam sebenarnya aku memberi tahu semuanya.. tapi tak ada yang mengerti.

Bukan.

Bukan karena siapapun tak mengerti tapi memang tak ada yang harus dimengerti. Tekanan yg seharusnya membuat diri belajar bagaimana ia akan bertindak untuk menenangkan. Tekanan membuat diri yang seharusnya mengerti apa apa yang akan ia perbaiki.

Disini ada yang takut akan kesendirian? Apa ada yang takut dilupakan atau ditinggalkan?

Jangan khawatir. Kamu ga sendiri,.

Bahayanya jadi orang yang memiliki rasa takut seperti.. menurutku.. merusak segala kegiatannya. Merusak segala kemampuannya dalam membuat dirinya bahagia. Merusak segala pemikirannya.

Sebenarnya tidak..

Sepertinya aku salah dalam berpendapat tentang bahaya itu.

Semua orang akan pergi. Semua orang akan meninggalkan dan ditinggalkan. Semua orang akan melupakan dan dilupakan.

Itu siklus. Siklus kehidupan. Benarkan? Apa aku salah?

Aku tak mengerti mengapa ada orang yang memiliki rasa takut seperti itu. Cepat sembuh jiwaku, cepat membaik pemikiranku, lekas pergi rasa takutku.

Disaat yang biasa menjadi berharga dan disaat yang berharga menjadi biasa.

Hey? Anybody home?
Aku punya sedikit pemikiran kecil yang mungkin disaat aku menjabarkannya akan membuahkan sebuah tulisan padat yang panjang. Bersedia untuk membacanya?

Ada yang tau maksud dari kata berharga dan biasa? Apa itu berharga? Apa itu biasa?
Aku tak akan menyalahkan apapun pendapat kalian tentang itu. Karena setiap orang memiliki persepsi yang berbeda bukan?

Kata bukanlah menjadi alasan mengapa orang bisa berkata. Menurutku, kata hanya sekedar tulisan tak berkalimat yang bilamana diartikan harus membutuhkan kalimat lain untuk mendeskripsikannya. Benar?
Tanpa kata, kalimat tak akan menjadi dirinya.
Tanpa kalimat, kata tak akan ada artinya.
Sama seperti sebuah pertemanan, yang mana jika salah satu menganggap pertemanan itu adalah hal yang biasa, maka salah satu diantaranya itu takkan menjadi dirinya dan takkan ada arti kehidupan tanpa kebahagiaan dari arti sebuah pertemanannya itu. Right?
Satu dengan satu yang lain berbeda? Memang. Tapi jika dalam ketulusan mereka akan sama, maka berhargalah hal itu. Karena menurutku, ketulusan itu adalah hal yang berharga.

Haha.. berhentilah dalam ke-absurd-an Jui.
Bergitu banyak hal yang menyatu karena perbedaan di dunia ini. Karena apa? Karena adanya ketulusan. Karena apa lagi? Karena adanya kasih dan sayang.
Jangan berbicara tentang kasih dan sayang, kita bahas saja mengenai Kenyamanan.
Dalam ruang sempit sekalipun, disaat yang menempati ruang itu nyaman. Semua kesempitan itu akan terasa bermakna untuknya.
Dalam waktu yang mendesakpun, disaat yang menggunakan waktu merasa nyaman untuk tetap berada dalam ketenangan. Semua desakan itu akan terasa mengasyikkan untuknya.
Bagaimana jika kenyamanan itu terusik? Atau menghilang?
Tentu! Siapapun yang memiliki kenyamanan dan dalam seketika atau berjangka waktu, kenyamanan itu menghilang dan terusik, maka rasakan jiwanya.. tidak ada lagi ketenangan, tidak ada lagi hal yang menyenangkan, tidak ada lagi hal yang membuatnya ingin melakukan hal lain yang mengayikkan.

Aku tak paham, kearah mana tulisan ini akan tertuju. 
Aku pun tak paham, ke jalan mana tulisan ini akan berhenti.
Tapi setidaknya ada satu tantangan untuk kalian, “Cobalah untuk mempelajari bagaimana caranya mengatasi jika suatu saat kenyamanan kalian akan hilang? Apa yang kalian lakukan disaat semua kenangan hanya membuahkan hal yang pahit jika dikenang? Ajari aku cara mengatasinya dan bilang padaku tentang apa yang akan kalian lakukan, aku ingin menirunya.”

-i wait for your answer- ♡ good aftie guys~