Last Dance and Memories

Awalnya ku kira sebuah cinta abadi akan ku miliki. Tapi ternyata, kian hari, cinta itu malah memudar seperti sebuah tinta di kertas putih. Cinta itu meninggalkanku, membiarkan aku sendiri bersama bayangan hampa. Aku tahu itu, tapi mengapa aku masih saja cemas?


Dan lagi.. Aku tersadar dari bayanganku. Melihat orang-orang yang juga terus saja terjebak dimasa lalu. Sama seperti diriku. Sulit rasanya melupakan, sampai aku membiarkan dunia berjalan tanpa aku iringi. Aku tahu itu, tapi mengapa aku begitu bodoh?


Cinta itu membuatku gila. Dulunya aku merasa sangat bahagia meskipun aku tak memiliki apa-apa. Setiap memikirkan itu, kenangan indah bersamamu, rasanya baru kemarin saja ku lewati. Tapi ternyata, aku yang terlalu jauh mengharapkan itu kembali. Entahlah.. aku tak ingat

Cinta itu mengelabuhi fikiranku. Rasa sakit dan bahagia pun hebatnya bisa aku nikmati dengan waktu yang bersamaan. Ketika masa lalu, yang masih terasa mimpi itu aku kenang kembali. Sampai langkahku tak tahu mau kutujukan kemana


Malam tengah pada peraduannya, membuat suasana sunyi seperti hanya mengizinkan angin untuk menemaninya yang terjaga. Hanya saja taburan bintang disana, menantangku untuk terus melihatnya. dan lagi… Aku melihatmu. Melihat bintang itu bagaikan tengah berkedip tersenyum kearahku, seperti dirimu, dulunya. Apa aku terlihat seperti orang yang kesepian? Karena aku kini sendirian?. Ntah mengapa rasanya ini malah membuatku ingin menangis?


Seiring bergetarnya suara disaat aku menyanyikan lagu lama itu. Aku berharap aku bisa kembali bersamamu, aku bisa lagi melihat indahnya senyuman itu. Dan seiring irama musik lagu itu aku dengarkan. Aku berharap aku bisa tertawa dan menari lagi bersamamu. Begitu bergairahnya hidupku dikala itu. Tapi sayangnya, itu anganku yang tak pernah bisa ku gapai lagi. Aku disini, hanya bisa tertawa dan menari untuk terakhir kalinya karena hampa tanpa dirimu.


Aku berharap dengan aku menyanyikan lagu itu.. Dengan aku menari bersama lagu itu. Aku mendapat kesempatan untuk bertemu denganmu lagi. Meskipun itu hanya sekali. Aku berjanji, aku takkan membiarkan waktuku hilang walaupun sedetik saja. Meskipun kesempatan itu hanya sesaat. Aku tetap akan berjanji. Maka aku mohon, kembalilah

 

Created by Dr

Inspiration: Bigbang’s Song, Last Dance

Maaf Surya, Dia Lebih Menarik Darimu

Pagi.. Siang.. Sore.. Malam..


Semua melangkah pada masing masing jalannya begitu saja, tanpa ada yang menyadari pergantian itu.
Bagiku memperhatikan pergantian itu juga bukanlah hal yang menyenangkan, bahkan jika dibandingkan dengan apa yang ku lakukan malah lebih tidak membosankan daripada memperhatikan sistem tata surya.
Dan aku ini adalah salah satu dari orang orang yang tak menyadari pergantian sang pemancar cahaya untuk kekasihnya, bumi, itu.

Sampai dimana, aku menemukan gema dilorong zonaku.
Lalu aku menawarkan ragaku untuk terus bersuara dan keluar dari zona sepiku.
Hingga sampailah dimana aku berhasil bertemu denganmu.

Tiba-tiba Zona sepiku, berubah.

Hari kian hari, tertariklah jiwaku untuk terus mengenalimu.
Waktu demi waktu, bedanya aku yang sebelumnya tak ku kenali kini terasa begitu jelas ku pelajari.
Saat hingga saat, aku menemukan titik hatiku membuka dari celah sempit nan gelap menjadi larut dalam cahaya yang hangat.

Semestinya aku tahu waktu..
Dimana aku harus berkunjung dan dimana aku harus berhenti menemui.
Tapi sesulit itukah aku hingga semakin hari aku semakin tak memperhatikan sistem sang surya.

Pagi.. aku menemuinya
Siang.. aku menemuinya
Sore.. aku menemuinya
Malam.. aku bersamanya

Akhirnya harus ku akui aku benci dengan ‘waktu’ saat ini.
Dia seperti merusak hari indah yang baru ku temui.
Kenapa tidak yang dulu saja?
Aku yang dulunya tak ada niat mencoba untuk mencari indahnya hari dan malah berlenggak lenggok sendiri dengan dunia tanpa warna pelangi.

Harus ku akui juga, aku benar benar tak suka dengan ‘waktu’ saat ini.
Dia seperti jam -Pasir- yang memaksaku berpacu dengan cepat dari apa yang ingin ku lewati, dan aku dituntut tak harus menikmati itu setelahnya.
Apa lagi inginku saat ini hanya berharap melakukan banyak hal bersama si pembawa keluar aku dari zona sepiku itu.

Tapi itu sebelumnya..

Kini aku menghargai waktuku.
Disetiap detiknya aku mencoba menikmati, indahnya detak jam yang seirama dengan denyut sang pemompa darah.
Kini juga aku mulai memperhatikan sang surya.
Disetiap perputarannya aku menarik sudut pikiranku untuk hal apa yang ingin kulakukan agar bisa menghabiskan sisa hari bersamanya.

Sungguh..
Sebenarnya bukan surya yang menyadarkanku seberapa berharganya dia untuk diperhatikan.
Melainkan dia, yang berani membantahi rasa benciku pada waktu dengan kalimat singkat,

“Aku tak pernah kehabisan waktu untuk bersamamu”.

Senja dan Awan Biruku

Senja kali ini.. tak seperti biasanya

Karena Jingga matahari menunduk lebih cepat karena takut dengan kian gelapnya hari.


Senja kali ini..tak seperti biasanya
Karena angin malam berhembus lebih halus dan dingin seakan berlari pilu menyusul jingga yang perlahan mulai menghilang.

Semestinya aku tau..
Egoku adalah Kaptenku, pengatur sah akan apa yang aku lakukan setiap harinya
Karena ada faktanya..
Aku mengerti, aku merasakan bahkan
Aku ingin suatu hal pun karena egoku.

Bearti jika aku membicarakan tentang rasa rinduku saat ini, pasti sangat amat dekat hubungannya dengan egoku.

Hey..
Apa kau disana?
Apa kau tau rasanya menahan perih ketika temu tak lagi digapai?
Apa kau tau rasanya bersenandung pilu ketika kabar tak lagi didapati?

Aku tau, ini egoku.
Egoku mengendalikan segala emosiku.
Tak jarang aku sadar akulah sebenarnya sang pembawa maut yang mencabut dan menghilangkan memori yang ku ukir sebelumnya.
Tak jarang pula aku sadar akulah sebenarnya si dalang tanpa wayang yang berperan sendiri dalam perih yang tak kunjung membaik.

Hey..
Apa kau adalah senja dan aku adalah angin malamnya?
Atau apa kau adalah awan gelap dan aku adalah senjanya?

Untuk kau..
Tolong hentikan permainan ini.. jangan terus bersembunyi dibalik layar yang tak ku ketahui itu.
Apa sadarkah kau bahwa aku tak lagi harus menyamarkan kataku untuk berkata bahwa aku sebenarnya rindu?
Apa kau benar benar tak sadar bahwa aku benar benar rindu?

Aku ingin kau kembali senjaku.
Aku ingin kau kembali menjadi awan biruku yang memberi ulasan manja dalam sudut bibirku.
Aku ingin kau kembali.

Cukup.

Itu saja.

Kacau tak terencana

​Hari hariku selalu dipenuhi dengan gerakan gerakan dari tubuhku.

Disaat aku bergerak disaat itu pula darahku tengah mengalir pada masing-masing salurannya.

Mengalir dengan teratur dan terarah tanpa harus aku yang meminta.


Kadang kala aku tersadar..

Gerakan dari denyutnya..

Rasa dari alirannya..

Bahkan bunyi dari degupnya..

Membuatku berfikir itu adalah harmoni terindah didalam tubuhku.

Tapi.. Apa yang terjadi?

Pandangan itu, iya, pandangan itu mengacaukan indahnya harmoniku.

Tatapan dan gerakan itu juga!

segalanya sudah menjadi kacau tak beraturan dikala pengacau itu datang merusak segala harmoni tubuhku.


Gerakan darahku tak lagi berdenyut dengan lembutnya..

Aliran darahku tak lagi terarah dengan santainya..

Bahkan juga bunyinya tak lagi berdegup dengan detak yang semestinya..


Apa yang diperbuat pengacau itu?

Hal yang tak biasa memang terdengar aneh.

Hal yang baru ditemui juga memang sulit untuk diterima.

Tapi pada akhirnya?

Lama kelamaan aku bisa menerima setiap kekacauan ini.

Meski hanya aku yang mendapat kekacauan yang tak terencana, meski dan hanya meski pula hanya pengacau itu yang membuatku kacau. Tak apa.


Setidaknya darahku masih tetap akan mengalir ditubuhku

Dan setidaknya aku masih dapat hidup untuk menikmati pandangan, tatapan dan gerakan sang pengacau harmoni itu.


Kau?

Sang Pengacau Harmoni.

Aku jatuh cinta.

Cahayaku dan Suara Itu

​Gelap?

Dingin dan sunyi.

Dimana cahaya? Dimana suara?

Ketika gelap, apa ada orang yang menyukainya?

Ketika gelap pula, apa ada orang yang dapat melihat apa yang ingin dilihatnya?

Kurasa tidak.

Gelap menurutku sama saja dengan rasa kesal.

Diam, sepi dan sendiri.

Siapa yang ingin mendekati orang yang sedang kesal?

Dan..

Siapa yang menyukai orang yang tengah seperti itu?

Kurasa tidak ada.

Bukan karena angin yang menghembus lesu ketika gelap menerpa pandangan mata.

Bukan juga karena keadaan yang memaksa hati untuk bertingkah tanpa bisa diatur.

Aku bertanya pada gelap dan kekesalanku.

Apa mereka tau apa yang ku mau disaat aku diam tanpa suara?

Apa mereka sadar apa yang tak kusuka disaat aku mengunci perlakuanku untuk tak memberi sekedar kode sederhana?

Kurasa tidak.

Aku hanya membutuhkan cahayaku, aku juga hanya membutuhkan suara itu.


Cahayaku adalah kebahagianku.

Dan suara itu adalah suaramu.

Aku hanya membutuhkan itu.


Obat Penenang

Aku berbicara sendiri di dalam hati. Menenangkan diri, menahan emosi dan mencari arti dari keadaan apapun itu yang tengah dialami.

Kadang tak jarang aku menemukan jalan buntu disana malah lebih tepatnya jarang bisa berhasil menemukan jalan, sekalipun jalan dengan petunjuk cahaya kecil yang menyerembet masuk dari celahnya. Sulit.

Perlahan tapi pasti aku mencari sesuatu untuk membantuku, mempermudah diriku, memperlancar pemikiranku untuk menghadapi setiap keadaan itu.

Dan ya sesuatu itu.. aku menemukannya.

Aku bukanlah tipikal orang yang suka diam dikala aku tengah berhadapan dengan apa apa yang membingungkanku. Kadang aku memilih untuk mengutarakannya saja atau menceritakannya.

Aku juga bukanlah tipikal orang yang suka memendam rasa. Bila dipendam itu sakit kenapa harus memendam, bila disimpan itu pilu kenapa harus menyimpan. Ya kurang lebih seperti itu.

Dan back!

Aku menemukan sesuatu itu.. sesuatu yang membuatku merasa bisa bernafas lega disaat semua keadaan baik burukku bisa aku ungkapkan dengan bercerita.

Itu temanku. Dikala aku memiliki banyak keadaan yang membingungkan lalu dia datang dengan hebatnya, membantu, menenangkan, mempermudah dan memperlancarkan pemikiranku untuk mencari arti dari keadaan itu, menaklukkan kebingungan itu. 

Saatnya aku berbicara, “disaat kau mencari sesuatu yang berharga untuk kau simpan, kau takkan menemukannya. Tapi disaat kau mencari sesuatu yang berharga untuk kau jaga dan kau sayangi, didekatmu ada, dia temanmu.”
Salam penutup dari anak kucing kecil, Jui, Selamat Malam 😊

“Air”

​Apa kau tau?

Aku sebenarnya iri pada air.

Ia selalu berusaha mengisi ruang kosong tak berpenghuni. Sedangkan aku?

Hanya duduk diam terpaku, disudut ruang hati sembari mencari kebahagian yang tak kunjung ku temui.

Dan Apa kau tau?

Aku sebenarnya benar benar iri pada air.

Ia selalu mengalir ke muara, dari tempat sempit ke tempat yang luas, dari jalan bebatuan hingga hamparan air tenang tanpa ombak.

Sedangkan aku?

Tak mengerti ke arah mana aku akan menempatkan diri, tak juga berhenti dari kegalauan yang mencoba menggoyahkan hati untuk tak berani mencari.

Bukan seperti air.

Aku hanyalah aku yang mencoba berdiri tanpa penopang dikala kaki benar rapuh untuk tegak menyanggah tubuh.

Aku hanyalah aku yang sebenarnya malu mengakui bahwa aku membutuhkan seseorang disini untuk menemani takutnya diri dari ruang yang sepi.

Dan aku hanyalah aku.
(Tulisanku untuk seseorang yang memberikan satu kata lalu aku diminta menjabarkannya :: SMP)