Saatnya pergi kah?

Apa sudah saatnya? Apa tidak lagi kaki ini berdiri untuk menunggu? -menunggu kesadaran- 

Sebenarnya bukan waktu yang mengatur tapi aku. Bukan rasa yang berperan tapi aku. Bukan apapun itu tapi aku, aku dalangnya.

Aku hanya membutuhkan, tapi apa aku dibutuhkan?

Aku hanya menginginkan, tapi apa aku diinginkan?

Aku hanya menyimpan rasa sayang yang berlebihan, tapi apa sama?

Dulu.. Dari setiap titik keluhanku, aku berharap ada yang mendengarkan. Dari setiap titik kelemahanku, aku berharap ada yang menguatkan. Dari setiap titik tangisanku, aku berharap ada yang menenangkan.

Tidaklah mudah mencari itu. 

Sayangnya, aku beruntung.

Akhir-akhir ini Aku baru saja menemukannya. Aku merasa ada yang mendengarkan, ada yang menguatkan dan ada yang menenangkan. Aku kira itu mimpiku atau imajinasi semata yang ku ukir sendiri dikepala, tapi ternyata bukan. Aku benar benar menemukannya.

Aku bersyukur.

Terlepas dari sikap kuat dan merasa tak apa bila tak diperhatikan dulunya, kini berubah menjadi takut akan dihiraukan.

Terlepas dari sikap tahan tangis dan penenang orang lain dulunya, kini berubah menjadi gadis cengeng yang tak ingin ditinggalkan.

Terlepas dari sikap tahan banting, pendengar dan penghancur kesendirian dengan keceriaan yang berlebihan dulunya, kini berubah menjadi seseorang yang selalu ingin diperhatikan, didengarkan dan ditemani.

Dari pemikiran itu.. aku sadar aku terlalu keras membalikkan sikapku bahkan jika ada, lebih dari 360° aku membalikkannya.

Buruk? Tidak. Hanya saja nantinya aku akan menjadi pecandu, takutnya.

Pertanyaanku: “Apa tak apa?”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s