Maaf Surya, Dia Lebih Menarik Darimu

Pagi.. Siang.. Sore.. Malam..


Semua melangkah pada masing masing jalannya begitu saja, tanpa ada yang menyadari pergantian itu.
Bagiku memperhatikan pergantian itu juga bukanlah hal yang menyenangkan, bahkan jika dibandingkan dengan apa yang ku lakukan malah lebih tidak membosankan daripada memperhatikan sistem tata surya.
Dan aku ini adalah salah satu dari orang orang yang tak menyadari pergantian sang pemancar cahaya untuk kekasihnya, bumi, itu.

Sampai dimana, aku menemukan gema dilorong zonaku.
Lalu aku menawarkan ragaku untuk terus bersuara dan keluar dari zona sepiku.
Hingga sampailah dimana aku berhasil bertemu denganmu.

Tiba-tiba Zona sepiku, berubah.

Hari kian hari, tertariklah jiwaku untuk terus mengenalimu.
Waktu demi waktu, bedanya aku yang sebelumnya tak ku kenali kini terasa begitu jelas ku pelajari.
Saat hingga saat, aku menemukan titik hatiku membuka dari celah sempit nan gelap menjadi larut dalam cahaya yang hangat.

Semestinya aku tahu waktu..
Dimana aku harus berkunjung dan dimana aku harus berhenti menemui.
Tapi sesulit itukah aku hingga semakin hari aku semakin tak memperhatikan sistem sang surya.

Pagi.. aku menemuinya
Siang.. aku menemuinya
Sore.. aku menemuinya
Malam.. aku bersamanya

Akhirnya harus ku akui aku benci dengan ‘waktu’ saat ini.
Dia seperti merusak hari indah yang baru ku temui.
Kenapa tidak yang dulu saja?
Aku yang dulunya tak ada niat mencoba untuk mencari indahnya hari dan malah berlenggak lenggok sendiri dengan dunia tanpa warna pelangi.

Harus ku akui juga, aku benar benar tak suka dengan ‘waktu’ saat ini.
Dia seperti jam -Pasir- yang memaksaku berpacu dengan cepat dari apa yang ingin ku lewati, dan aku dituntut tak harus menikmati itu setelahnya.
Apa lagi inginku saat ini hanya berharap melakukan banyak hal bersama si pembawa keluar aku dari zona sepiku itu.

Tapi itu sebelumnya..

Kini aku menghargai waktuku.
Disetiap detiknya aku mencoba menikmati, indahnya detak jam yang seirama dengan denyut sang pemompa darah.
Kini juga aku mulai memperhatikan sang surya.
Disetiap perputarannya aku menarik sudut pikiranku untuk hal apa yang ingin kulakukan agar bisa menghabiskan sisa hari bersamanya.

Sungguh..
Sebenarnya bukan surya yang menyadarkanku seberapa berharganya dia untuk diperhatikan.
Melainkan dia, yang berani membantahi rasa benciku pada waktu dengan kalimat singkat,

“Aku tak pernah kehabisan waktu untuk bersamamu”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s